Senin, 08 April 2013

Dahlan Iskan Mengubah Saya 1

Tidak Pernah Beli Buku



Dahlan Iskan sudah banyak mengubah saya. Sejak kecil saya suka sekali membaca tapi tidak pernah membeli buku. Apalagi novel, sekali tamat, ya habislah sudah.

Waktu kecil (SD) menjadi anggota sebuah perpustakaan saya meminjam buku setiap minggu 2-3 buku.  Judul bukunya sudah lupa, tapi di antaranya ada novel2 terkenal kelas dunia yang disajikan dalam 200 gambar, ada juga serial Sapta Siaga dan Lima Sekawan karya Bu Enid Blyton itu. Sampai buku di perpus itu habis tidak ada lagi yang bisa dipinjam, (mungkin karena harga bukunya mahal dan sewa buku kan murah jadi susah untuk beli lagi) akhirnya saya tidak kembali lagi ke situ.

Jaman SMA eh SPG ya, sekolah kami merupakan sekolah terpadu mulai dari TK, SD, SMP, SMA, dan SPG memiliki perpustakaan yang disebut Perpustakaan Pusat. Iya karena ada Perpus TK, Perpus SD, dll nya tapi ada Perpus Pusat. Di situ bukunya keren-keren. Serial karya Bu Enid Blyton ada lagi yang lain selain yang 2 itu. Saya habiskan.  Juga novel dari Marga T, V. Lestari, Mira W dll. Pokoknya semua pinjam. Sayang kalau beli. Sampai sudah tua ini. :)

Tampillah ke media seorang bernama Dahlan Iskan yang katanya hatinya diganti di Cina. Dalam acara TV beliau tampil menceritakan hatinya yang sudah ganti karena sudah kena kanker hati atau sirosis hepatis istilah kerennya. Dalam acara itu para hadirin dibagi buku Ganti Hati itu seorang satu.




Sirosis Hepatis





Kata Sirosis Hepatis  yang diceritakan Pa Dahlan Iskan sungguh memberikan kesan dalam bagi saya.
Pada tahun 1994 akhir Ibu mertua saya dikabarkan sakit sirosis hepatis. Sakit apa itu. Baru dengar. Biasanya orang sakit itu ya kanker, tumor, stroke, jantung, cuma sebegitu pengetahuan saya. Tiga bulan Ibu Mertua menderita sebelum akhirnya meninggal dunia karena sakit misterius itu. Beliau menghadapNya pada awal tahun 1995.



Lima tahun kemudian kami mendapat berita kakak ipar (kakak kandung suami) sakit akibat Hepatitis B. Itu beritanya. Beliau muntah darah di kamar mandi, lalu dibawa ke RS dan dirawat selama beberapa waktu. Dari situ Kakak bilang tidak boleh terlalu banyak bergerak, makan telur paling banyak seminggu 2 butir, minum sehari berapa ml dll.

Wah tidak boleh banyak minum? Sementara dulu Ibu selama tiga bulan terus terusan diinfus!! Sampai dari jahitan operasinya keluar air merembes. O pantesan....

Kakak sempat dianggap 'sembuh' dan bisa dinas luar kota lagi. Tapi dalam perjalanan kembali ke Jakarta dia kembali muntah darah. Dia langsung di bawa ke RS dan meninggal dunia pada tahun 2000.

Beli Buku Bajakan

Setelah ada buku Ganti Hati itu saya langsung ke pasar buku. Lho kok murah? 25rb aja? Wah terjangkau dong kalau segini, batinku. Pulang. Buku itu langsung dibawa habis. Dan di situ Dahlan Iskan menceritakan bahwa dia terkena Hepatitis B dan sudah berkembang menjadi kanker hati. Di buku itu menjelaskan kenapa tidak boleh minum air banyak-banyak, kenapa Kakak Alm. sampai muntah darah. Beribu oooo ternyata menjawab semua kepenasaranan kami tentang penyakit misterius itu. Sekarang tidak misterius lagi karena dalam buku Gati Hati dijelaskan secara gamblang dan jelas. Ada juga fotonya. Hitam putih bruwet. Gambar Ibu Nafsiah Dahlan yang 'ndeprok' di depan hati Pak Dahlan yang ditempatkan di sebuah wadah.

Buku itu saya gilirkan kepada teman-teman di sekolah. Buku itu membuat teman ingin ke Pasar Buku itu, saya juga mau beli lagi. Setelah Ganti Hati itu, tiba-tiba saya lapar terhadap segala sesuatu tentang Dahlan Iskan. Saya beli buku mengenai beliau lagi lagi dan lagi

Kunjungan kedua ke Pasar Buku saya beli Dahlan Juga Manusia karya mbak Ita Siti Nasyiah mantan anak buah Pak Dahlan. Harganya malah lebih murah lagi, 20rb perak?! Ckckck... Bukunya tipis lumayan tapi rasanya terlalu murah kalau harganya segitu.  Teman yang mau ikut beli buku kemudian cari buku Sepatu Dahlan. Ketemu. Harganya 65rb. Lho?! Kok?! Dengan diskon Sepatu Dahlan harganyajadi 51rb. Barulah saya menyadari arti bajakan dan asli. Dua buku yang murah itu bajakan :(

                                                        Sumber: sosbud.kompasiana.com
Buku bajakan itu kualitas kertasnya dan cetakannya parah payahnya. Jilidnya juga begitu. Buku Ganti Hati dengan Dahlan Juga Manusia dibaca beberapa teman bergantian, dan pulangnya jilidnya sudah pecah-pecah. Belakangan saya buka buku Ganti Hati di toko buku. Aduh! Itu foto Ibu Nafsiah sedang bersimpuh di depan hati Pak Dahla itu berwarna?! Kertasnya luks lagi! Kapok saya.... Setelahnya saya beli buku-buku tentang Pak Dahlan yang aslinya, di toko buku, yang diskon. Masih mahal dibandingkan buku bajakan, tapi tetap lebih murah.

Beli Buku Asli dan Ditandatangani oleh Penulisnya dan Tokoh Utamanya

Kemarin saya mendapat pengalaman baru. Fanpage Dahlan Iskan akan mengadakan kopi darat dan bedah buku. Saya lalu mendaftar dan hadir. Di sana ada launching dua buku tentang Pak Dahlan. Karya Joko Intarto wartawan Jawa Pos atau JTO, dan Wong nDeso itu Militan karya Misbahul Huda. Keduanya mengaku sebagai murid Pak Dahlan. Tentunya murid yang berhasil hehehe....

Bedah Buku
Buku itu dibeli oleh sebagian besar hadirin. Lalu kita berebut minta tanda tangan, dan minta foto bersama penulisnya. Bergantian kedua penulis menceritakan isi buku itu secara global. Ketika sedang Pak JTO sedang bicara, tiba-tiba ada berita Pak Dahlan sudah dalam perjalanan menuju lokasi kita di sini. Suasana langsung berubah. Hadirin berdiri. Pak Dahlan Iskan masuk diiringi tepukan Dahlanis dan yel-yel Demi Indonesia. Kejutan menyenangkan! Pak Dahlan berkeliling untuk menyalami semua hadirin!

Pak Dahlan Iskan sedang menyalami seluruh hadirin




Pak Dahlan kemudian menjawab pertanyaan yang diajukan. Tapi dia meminta pertanyaan yang personal bukan seperti yang ada di koran. Salah satunya ada yang bertanya, bagaimana cara Bapak mendidik anak Bapak? Pak Dahlan hanya nyengir lalu berkata: Maaf, yang mendidik anak saya itu istri saya.



Selama mendengarkan pertanyaan tangan Pak Dahlan tidak berhenti menandatangani buku-buku yang baru dibeli dan disodorkan kepadanya. Termasuk buku saya. Kemajuan kan? :D







2 komentar:

smasejahterasby mengatakan...

Mantap......bu....saya yakin, yang mendorong untuk menulis adalah keinginan di dalam hati yang menggebu-gebu untuk mengabarkan bahwa anda baru saja bersua dengan idola anda dan saudara2 anda di dunia maya.

Sisilia Herjanti mengatakan...

Hehe trimakasih ya. Mumpung masih fresh :)