Jumat, 2008 Desember 12
Gas langka andai komita kemarin masih ada
Kemudian datang konversi. Tiap rumah tanpa kecuali dapet tabung gas kecil dengan kompornya. Sebelum datang beneran tetanggaku minta komitaku. Aku berikan dengan ditukar sejumlah uang.
Waktu itu minyak tanah sudah susah. Pembantuku bahkan minta ijin tidak masuk kerja karena mau cari minyak tanah untuk membantu suaminya dagang nasi goreng.. Dia beli mitan agak jauh dari rumah. Mitan langka kalau ada juga mahal. Jadi kalau komita ku lepaskan nggak bakalan apa apa.
Dan sekarang? konversi belum setahun gas sudah langka berapa kali coba? dan sekarang tukang mitan keliling lalu lalang di sekitar rumah jualan dengan harga normal! dan sekarang? aku nggak bisa ngapa-ngapain karena dua tabung gasku gede kecil kosong. Mau beli kemana dimana mana kosong. Sudah jam segini belum punya lawuh buat makan siang. Mau beli gudeg jogja orangnya libur lebaran . Mau beli padang masih bosen habis makan daging kurban.
Coba kemaren ittu komitanya nggak dijual. Kan kita bisa beli minyak tanah. Haaaa hhh cape deh...
Sabtu, 2008 November 29
Kisi kisi soal ujian
Ada guru yang langsung mulai membuat indikator lalu ke penulisan soal. Begitu dicek ulang seringkali tidak kelihatan kesinambungan antara soal dengan indikator. Soal ke timur dan indikator ke utara. Beberapa guru justru membaliknya. Mereka mulai dari soal lalu dilanjutkan dengan mulai membuat kisi-kisinya. Menurut mereka, proses itu lebih mudah karena tinggal mengubah soal menjadi indikator. Namun kendalanya proses ini hanya dapat menghasilkan kisi-kisi yang tertutup. Yaitu satu soal satu kisi-kisi. Padahal mengutip pernyataan ibu Tyas dalam sebuah seminar menyatakan dari satu indikator dapat dibuat 100soal.
Menurut Tahyan Somantri penulisan kisi-kisi soal ujian dimulai dari pemetaan materi, penentuan jumlah soal tiap materi esensial, dilanjutkan dengan penentuan jumlah soal tiap materi. Kemudian baru melangkah ke tahap selanjutnya yaitu penulisan kisi-kisi dan penyusunan soal. Dengan tahapan ini pernyataan ibu Tyas di atas ada benarnya juga. Meskipun tidak seratus tapi yang jelas bisa dibuat soal yang banyak
Marilah kita membuat soal ujian dengan tahapan yang benar sehingga kita bisa membuktikan pernyataan bu tyas tadi
Rabu, 2008 Juni 11
Story Telling 1
Materinya sih menarik, tapi tidak seperti seminar yang biasanya aku datangi, kali ini agak berbeda. Kalau kita datang ke sebuah seminar, biasanya pembicara, moderator, pokoknya semua yang tampil di panggung akan berada di panggung dari awal sampai akhir. Sehingga kalau kita masih penasaran dengan salah satu pembicara kita bisa 'mengejar' dengan pertanyaan2.
Tapi ini tidak demikian. Ketika seminar belum selesai, baru sesi kedua, tiba-tiba aku menyadari bahwa pembicara pertama tidak kelihatan. Kupikir ke belakang sebentar atau bagai mana. Tiba giliran workshop, peserta diminta mempersiapkan sebuah penyajian story telling. Peserta lalu sibuk bekerja perkelompok. Ketika sedang berdiskusi, sekerlingan aku melihat pembicara kedua diam-diam menyelinap pergi. Lho koq gini caranya? Mengapa kita semua ditinggal pergi? Pemimpin workshop itu yang entah mahasiswa atau dosen freshgraduate kelihatannya tidak meyakinkan dalam memberikan arahan.
Aku jadi heran, kenapa dosen2 pembicara pertama dan kedua itu pergi? Seperti memberikan kuliah, beres langsung menghilang. Apakan mentang2 penyelenggaranya mahasiswa sehingga dia bebas seperti itu? Apakah mereka akan pergi juga kalau penyelenggaranya DIKTI misalnya. Nggak kan. Kesannya pembicara ini tidak menganggap penyelenggaranya penting. Yah mereka kan mahasiswa.
Berhubung kali itu kami sedang mempersiapkan UASBN, kami mohon diri sehubungan dengan kepentingan kami itu. Tapi hal itu juga mungkin tidak akan kami lakukan bilamana dosen pembicaranya tetap berada di tempat.
Selasa, 2008 April 22
UAS-BN : Kriteria Ketuntasan Minimal Buat apa sih?
1. Kontradiktif
Bagi guru Ujian Negara adalah satu hal yang kontradiktif. Di satu fihak kurikulum yang sekarang sedang dikembangkan adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Sekolah bebas menentukan konten kurikulumnya sendiri seperti yang terjadi di perguruan tinggi. Tapi dengan adanya Ujian Negara ini kurikululum yang sudah dikembangkan di tingkat sekolah harus berusaha menyesuaikan diri dengan kurikulum tingkat nasional. Ujian Akhir Sekolah yang tahun lalu dibuat sendiri sesuai dengan konten lokal sekarang harus menebak-nebak apa isinya materi yang akan diujikan di tingkat nasional.
2. Kriteria Ketuntasan Minimal.
Siswa bisa lulus SD kalau memiliki nilai minimal tertentu yang ditentukan guru berdasarkan intensitas materi (kompleksitas), dukungan sarana dan prasarana termasuk kualitas guru, dan kualitas siswa yang bersangkutan (intake). Setelah dihitung-hitung siswa bisa lulus dengan nilai sekian. Siswa yang tidak mendapatkan nilai sekian tidak diperkenankan untuk lulus. KKM ini kemudian akan disosialisasikan kepada para siswa dan orang tuanya. Misalnya Sekolah A meluluskan siswanya yang memiliki nilai 4,5. Segenap elemen sekolah termasuk siswa dan orang tua mendapat sosialisasi nilai minimal ini. Siswa belajar agar nilainya minimai 4,5 untuk bisa lulus SD. Siswa yang nilainya lebih kecil dari itu tidak lulus.
Sekarang adalah sedang digiatkan program wajib belajar, siswa harus diberi insentif, daya tarik, agar mau melanjutkan sekolahnya minimal sampai tingkat SMP. Mengingat banyaknya angka putus sekolah sekarang ini maka sebaiknya kelulusan tingkat SD jangan dijadikan momok bagi para siswa. Karena dikhawatirkan akan mengurangi minat siswa untuk belajar. Siswa yang tidak memenuhi KKM diserahkan kepada kebijakan Dewan Guru. Dengan kata lain, nasib siswa yang tidak memenuhi KKM diserahkan kepada kebijakan guru. Masih ingat kan KKM yang sudah disosialisasikan tadi? Guru dengan pertimbangan wajib belajar tadi, akan meluluskan siswa meski tidak memenuhi KKM.
Lalu apa gunanya KKM dihitung dan dipublikasikan kalau akhirnya semua bermuara pada kebijakan guru seperti pada tahun sebelumnya? Apa tidak akan memalukan sekolah yang bersangkutan berikut gurunya? Siswa yang bersangkutan yang nilainya tidak memenuhi KKM? Sekarang sudah jaman transparansi. Siswa pasti bisa mengetahui nilai perolehan teman-temannya. Bagaimana mungkin siswa yang tidak lulus ujian bisa percaya diri menatap masa depannya kalau dia dihantui oleh pandangan teman-temannya yang mengetahui kalau dia lulus atas 'belas kasihan guru'? Bagaimana dengan tudingan masyarakat sekarang yang mengetahui siswa B tidak memenuhi KKM tapi kemudian diluluskan, menuduh guru disogok oleh orang tua? Diumumkannya KKM oleh sekolah hanya akan menjatuhkan wibawa guru di depan masyarakat. Percayalah. Lebih baik jika kelulusan ditentukan seperti tahun sebelumnya di mana standard kelulusan adalah rahasia sehingga guru bebas menentukan kelulusan siswa tanpa harus dihantui tudingan orang tua bahwa guru disogok dll.
Jumat, 2008 Maret 21
Ayat-ayat Cinta
Kemarin ini aku nonton Ayat-ayat Cinta bareng 3 temanku. Bagus sekali. A must seen movie. Aku menemukan beberapa hal:
Akting Rianti dengan Clarissa bagusan Clarissa menurutku. Mungkin emosi Rianti tidak (kurang) kelihatan karena tertutup cadar sementara Clarissa bebas memperlihatkan emosinya.
Mieke Wijaya kelihatan Mesir banget. Eh tapi dia jadi apa sih? Sekelebat gitu. Aku lupa. Tapi dibandingkan dengan Marini Burhan masih kelihatan Bu Mieke wajah Mesirnya.
Bener kata Hanung, Fedi datar banget. Susah mengeluarkan emosinya. Pas dipenjara itu dia mengeluarkan emosinya sampai kelihatan lebai (berlebih).
Sayang adegan Maria baca surah Maryam nggak dieksplorasi benar. Padahal bagian Maria yang ngelindur pas lagi sakaratul maut itu kenapa nggak dibikin. Daripada adegan tak tentu tujuan di taman rumah sakit setelah Fahri bebas itu. Mendingan adegan Marianya di banyakin. Padahal adegan itu yang bikin aku pingin datang ke bioskop. Apalagi di infotainmen Clarissa bilang di hafal surah Maryam. Sayang kalau cuman kepake 2 atau 3 ayat kepotong editing.
Lagu Sunyi punya Sherina memberi makna yang dalam kalau sesuai dengan adegannya. Padahal sebelumnya lagu itu sukar dimengerti. Pas adegan yang pakai lagu itu, terasa banget emosi kita tersedot. Bagus banget. Sherina memang berbakat. Apalagi dia juga yang buat aransemennya. Hebat!!
Tapi kurang lebihnya sih bagus bagus aja. Bagus sekali malah.
Pulang dari bioskop semua teman komentar, kalau poligami begitu, siapa yang nggak kan setuju. Taruhannya nyawa. Ceu Lilis bilang tah A Agym suruh liat filem itu.
Hehe belum lupa ya ... ya iya habis diingetin. Pantesan hadiahnya surga, dipoligami itu perih banget. Ya iyalah masak Allah memberi Surga for nothing. Harus ada upayanya dong. Padahal yang Fahri lakukan demi menyelamatkan nyawa orang dan orok. Itu saja ada konfliknya. Rianti jadi sakit hati. Apalagi poligami yang dilakukan banyak orang demi nafsu semata. Isteri sakit keras, eh dianggap nggak mampu dan jadi alasan buat kawin lagi. Ya yang tadinya sakit keras jadi meninggal karena terlalu sakit hati. Sakitnya jadi lahir dan batin. Ah ini mah hanya celotehan orang bodoh yang sok tahu
Arswendo Atmowiloto.
Orang tengil ini sudah menjadi idolaku sejak aku SD. Bagaimana tidak setiap minggu dia nulis di majalah, bilang mengarang itu gampang. Tengil kan? Gampang katanya? Menurutku mengarang itu gampang kalau tidak sedang memegang pulpen atau di depan komputer. Begitu menghadapi fasilitas menulis, yang mau ditulis apaaaa.... mulai dari manaaa... apa dulu... mendadak inspirasi buntu. Tapi kalimat ‘Mengarang itu gampang’ itu meracuni banget. Kemarin ini aku dapat tantangan menulis buku PPKN kelas 4 dan kelas 6 SD. Sudah dibayar. Nggak tahu diterbitkan atas nama siapa. Atas namaku atau bukan aku nggak peduli. Yang jelas aku sudah membuktikan kata-kata Arswendo itu benar. Bukan benar. Bisa dilakukan, meski tidak mudah.
Memang. Rasanya Aku menganggap semua omongan Arswendo benar adanya. Aku langganan tabloid Monitor sejak awal terbit sampai akhirnya. Di tabloid Monitor itu sangat mencerdaskan buat kita sebagai penonton TV. Saking seringnya Mas Wendo ngritik di tabloidnya sampai dia ditantang untuk bikin acara yang bagus. Dan dia bikin keluarga Cemara. Memang bagus kan?
Pas dia dipenjara, menurutku nggak salah-salah amat. Salah voternya nggak milih yang bener, ya nggak? Jadi weh penyelenggara pollingnya yang kena. Dasar pengarang pengalaman di penjara dijadikan sinetron. Sandy Nayoan bagus banget maen jadi Mas Wendo. Sampai aku lupa kalau Mas Wendo nggak secakep Sandy Nayoan. Masuk banget soalnya. Sinetron yang lain juga Satu Kakak Tujuh Ponakan. Bagus juga. Lihat akting Derry Drajat jadi suami Novia, nggak pernah sebagus itu rasanya sekarang. Cuman sinetronnya Mas Wendo nggak laku di iklan. Nggak payu. Jadi weh umurnya pendek-pendek. Pertamanya ganti jam tayang terus ilang gitu aja.
Senopati Pamungkas juga bagus banget tuh novelnya. Dulu aku baca. Tentang Majapahit. Sekarang diterbitkan lagi dengan perwajahan berbeda. Tapi aku nggak beli. Meski suka baca aku nggak suka beli. Mahal. Sayang uangnya. Bentrok dengan kebutuhan dapur.
Kritik Arswendo tentang acara juga ditanggapi positif. Rep BBM jadi siaran langsung setelah di kritik Mas Wendo. Meski pindah dari Metro ke TV One sayang juga yah...
Pendapat Mas Wendo tentang anak gadisnya yang pacaran juga bener. Menurutnya kalau pacaran, anaknya harus pake celana jins. Kalau berniat buruk lebih susah katanya. Itu aku terapkan sekarang pada anak perempuanku. Untungnya dia nggak terlalu girlie, jadi nggak pernah pak rok kalau pergi. Untungnya lagi sekarang lagi musim blus yang mirip rok pendek jadi bisa di setelkan dengan celana jins. Semoga aku bisa menjaga anak perempuanku dari pergaulan bebas. Sehingga mereka dapat bebas bergaul tapi tidak meninggalkan tata krama dan kesopanan.
Aku lucu banget tuh baca pengalaman Mas Wendo tentang mobil baru. Hehe... masak pake mobil tapi pas ujan berteduh di halte bis. Rasanya aku sudah lama baca itu tapi kalau ingat tetap lucu.
Senin, 2008 Maret 17
Sertifikasi? Kasihan para senior....
Ternyata eh ternyata, syarat itu jadi semacam mission imposibble yang jadi bumerang buat pemerintah karena banyak sarjana yang ternyata dulunya non kependidikan, bukan lulusan IKIP (UPI) yang menjadikannya seperti saringan virus.... lembuuuut banget. Akhirnya mereka melonggarkan keputusan yang dibuatnya sendiri... apa saja asal sarjana... dari PT mana saja masuk, kependidikan/non kependidikan silakaaan. Pengalaman mengajar juga tidak jadi bahan pertimbangan. Jadilah berduyun-duyun guru yang sarjana melengkapi syarat buat sertifikasi. Baguslah...
Nah sekarang ternyata yang ini, rasanya jadi nggak adil buat guru yang berdedikasi, yang nggak pernah keluar kelas 'demi' sekali lagi DEMI tidak mau meninggalkan anak didiknya sehingga mereka tidak mau kuliah. Nggak pernah ikut penataran, karena biasanya ada guru 'urusan luarnegeri' yang biasa diutus ke penataran ini itu atau rapat-rapat sebangsanya. Guru ini tidak pernah ikut yang begitu karena seringkali beliau ini bukan malas, tapi berat meninggalkan anak didiknya. Tahu sendirilah kalau pengajar invaler bagaimana. Sama koq aku juga. Paling-paling TIK nya Anak diam tenang di kelas, tidak ada yang bertengkar atau berkelahi. Nilai biar oleh gurunya. Ibu kita ini yang aku yakin banyak sekali di negeri ini mungkin jumlahnya lebih banyak dari yang memenuhi syarat sertifikasi.
Mereka tidak akan masuk syarat sertifikasi!!! Karena apaaaaaaa? (Inget Harmono Rep BBM?) Karena mereka bukan SARJANA!!! Dosa mereka cuman satu: BUKAN SARJANA!! Padahal mereka adalah guru yang bisa digugu dan ditiru. Dedikasi mereka luar biasa... tapi tidak akan lulus sertifikasi karena mereka bukan sarjana.
Sedih sekali. Aku sedih bukan demi diriku. Aku sih masih lama sampai ke syarat itu, kuliah sedang maju. Tapi pemerintah benar-benar menafikan jasa-jasa mereka. Mereka itulah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Mentang-mentang nggak akan ngasih tanda jasa, bangga sudah menyebutnya sebagai pahlawan dan melupakan jasa, dedikasi dan kredibilitas mereka buat mencerdaskan anak bangsa.
Guru-guru itu paling cuman bisa bilang 'Ya mau gimana lagi, kita kan bukan sarjana. Biar saja. Allah kan Maha Menghitung.' Pemerintaah.... hallooooo... mengandalkan Allah saja nih buat menginga jasa-jasa mereka itu. Memang sih.. Allah akan mencatat semua amal kebaikan bahkan sebesar biji sesawi, tapi masak siiih... semua jadi urusan akhirat? Dan guru nggak berhak mendapat perhatian dari pemerintah...
Duh kasihan... semoga kalangan berwenang ada yang baca tulisan orang bodoh ini dan tergerak hatinya untuk memperhatikan dedicated teacher yang non sarjana.
Salam buat ibu Mulyani, Pak Hermat dan guru berdedikasi lainnya. Sekian